news

Tak Ada  Kursi, Siswa SDN 369 Bintuas Memilih Pulang

penulis: Admin | 15 July 2019 16:03 WIB
editor:


SD Negeri 369  Bintuas, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara,  kondisinya sangat memprihatinkan. (Foto: Cing Siregar)
SD Negeri 369  Bintuas, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, kondisinya sangat memprihatinkan. (Foto: Cing Siregar)

Mandailing Natal, Kejarfakta.co -- Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru 2019/2020, banyak orang tua siswa yang merasa sangat kecewa terhadap manajemen SD Negeri 369  Bintuas, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Hal tersebut disebabkan kondisi dan ketersediaan fasilitas belajar mengajar di sekolah tersebut.

Sekolah yang berdiri sejak tahun 1983 ini kondisinya sangat memprihatinkan saat ini. Berdasarkan data Dikdasmen Kemendikbud, SDN 369 Bintuas ini terakreditasi C dengan memiliki siswa sebanyak 130 orang, guru 9 orang serta 6 ruang kelas belajar tanpa laboratorium dan perpustakaan serta tanpa ketersediaan sanitasi.

Senin, 15 Juli 2019 sekitar puku 08.00 WIB belasan siswa baru hadir untuk memulai pendidikannya di SD ini, dengan di dampingi orang tua masing-masing untuk di daftarkan sebagai peserta didik. Sesampainya di sekolah sebagian besar sangat merasa kecewa atas kenyataan yang ada di sekolah tersebut.

SD Negeri 369  Bintuas, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, kondisinya sangat memprihatinkan. (Foto: Cing Siregar)

Kekecewaan tersebut sangat berdasar, dikarenakan fasilitas dasar untuk belajar mengajar tidak cukup tersedia di sekolah ini. Tidak tersedianya kursi siswa yang cukup, hal ini lah yang dianggap sangat berbanding terbalik dengan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa di negara ini.

"Kursinya tidak cukup, tadi sudah ada anak-anak yang 3 orang untuk satu bangku. Bangku satu meter-an lah. Itu pun masih tidak cukup. Ada beberapa yang pulang, nggak jadi sekolah hari ini." ujar Zarman yang terlihat mendampingi putrinya untuk masuk sekolah.

Kekecewaan orang tua siswa bertambah karena tidak hadirnya Bapak Syahrin selaku Kepala Sekolah untuk mengambil kebijakan. "Kepalanya pun nggak hadir, maunya kepala sekolah hadir lah disaat seperti ini. Kalau kepala sekolah ada, kan kebijakan bisa dibuat. Kami bersedia kok membantu agar anak-anak bisa sekolah," kata Zarman.

Hal tersebut memunculkan beberapa tanggapan dari masyarakat. Salah satunya Wirman Nasution, Eks Sekjend BEM-UMTS yang sekarang aktif di KNPI Kota Padangsidimpuan ini sangat menyesalkan terjadinya hal tersebut. Mendengar kabar bahwa sekolah yang dulu menjadi tempat awalnya menimba ilmu sekarang sudah sangat memprihatinkan kondisinya.

"Ada yang tidak beres nampaknya dengan sistem pendidikan di Madina ini sekarang. Kenyataan di lapangan sudah tidak ada lagi yang sesuai dengan laporan ke atasan. Tidak sekali dua kali saya mendapatkan keluhan masyarakat terhadap sekolah ini. Hampir 3 tahun ini nggak ada beresnya sekolah ini sekarang,” ujar Wirman saat ditemui di sekitaran Kampus UMTS.

SD Negeri 369  Bintuas, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, kondisinya sangat memprihatinkan. (Foto: Cing Siregar)

Sebagai tahap awal dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang termaktub dalam pembukaan UU Dasar 1945, pendidikan harus dikelola dengan baik mulai dari tingkat dasar sampai ke tingkat atas. Terlebih untuk tingkat dasa harus ada perhatian khusus, karena ini adalah awal dari pengenalan pendidikan. Serta pendidikan juga harus berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dimanapun dia berada.

"Pemda Madina kan cakapnya aja yang gede, janji selangit. Tapi realisasinya nol besar. Dari dulu kami di pantai barat ini udah sangat sabar menghadapi kenyataan, kami ini anak kandung yang ditirikan. Sumber PAD Madina yang paling besar itu dari kawasan pantai barat, tapi kami tidak di perhatikan. SD Bintuas itu udah sangat layak diperhatikan, dibangun. Tapi harus di ganti dulu kepala sekolahnya, udah nggak bisa lagi itu di toleransi, bila perlu copot itu kadis pendidikan madina, ganti sama yg paham persoalan pendidikan," cetus Wirman jengkel atas persoalan pendidikan di kampungnya.

Untuk diketahui Pantai Barat adalah kawasan bibir pantai Kab. Mandailing Natal, yaitu Kecamatan Natal, Batahan, Sinunukan, Ranto Baek dan Muara Batang Gadis. Mayoritas masyakat disini adalah nelayan dan petani kelapa sawit. Banyak perusahaan-perusahaan perkebunan serta Pabrik Kelapa Sawit beroperasi disini yang menyumbangkan pajak serta retribusinya untuk APBD Kabupaten Madina.

"Kami ini kan anak kandung madina juga, sama seperti Panyabungan, tapi kami ditirikan. Panyabungan itu udah maju pendidikannya, jauh kami tertinggal. Lihat aja komposisi APBD Madina tahun ke tahun, tidak sebanding itu anggaran pendidikan di kawasan panyabungan dengan kawasan pantai barat. Mana mungkin lagi di daerah seperti Kabupaten Mandailing Natal ada sekolah negeri nggak cukup kursi, tidak ada sanitasi, tidak ada jaringan internet, gurunya tenaga sukarela semua, tambah lagi kepala sekolahnya nggak masuk-masuk. Jangan-jangan dana BOS dikorupsi semua ini sama kepala sekolahnya, dibagi-bagi ke dinas. Harus di copot itu kepala sekolahnya, kabarnya kawan-kawan mahasiswa pantai barat udah konsolidasi, nanti biar di demo dulu Bupatinya, kita ingatkan dinas pendidikan madina,” ungkap Wirman. (Cing Siregar)

Tag : #Pendidikan#Tahun Ajaran Baru#SD Negeri 569 Bintuas